Belajar Dari Mesir

Keprihatinan Mesir sejatinya, bukan saja bencana lokal yang terjadi di Mesir. Bahkan, bencana ini adalah bencana seluruh ummat Islam yang masih terluka disana sini. Luka pembantaian di Suriah belum berhenti, begitupula luka di Myanmar, Kashmir, serta luka-luka yang menganga akibat pembantaian besar-besaran yang dilakukan terhadap kaum muslimin di berbagai negeri muslim yang lain, dengan berbagai dalih dan latar belakang yang dilakukannya. Pembantaian yang dilakukan militer Mesir terhadap pendukung Mursi dan Ikhwanul Muslimin terus berlanjut. Korban berjatuhan sudah mencapai di atas angka tiga ribu lebih. Militer Mesir menggunakan cara-cara biadab dalam menangani kaum demonstran. Termasuk menggunakan tank-tank dan panser untuk menggilas tubuh para demonstran yang sudah meninggal maupun yang masih hidup. Tragis lagi ‘mati lemas’ dan tercekik karena gas beracun dan menghirup gas air mata. Begitu juga Pembakaran hidup-hidup di tenda-tenda, peluru tajam yang ditembakkan oleh para penembak jitu berseragam militer yang menembak dari atap dan menargetkan wartawan dan rumah sakit tak luput dari sasaran. Bahkan militer Mesir menggunakan cara yang teramat keji dengan membakar mesjid al-Adawiya dan Rumah Sakit Rabaa al-Adawiyah yang berisi ratusan pasien. Tangisan Muslimah  dan anak-anak yang harus dilindungi oleh seorang laki-laki Muslim, tidak membuat nurani mereka bergetar untuk mencegah pembunuhan. Aksi brutal ini lagi-lagi membuktikan militer Mesir telah menjadi mesin pembantai rakyat Mesir yang seharusnya mereka lindungi.
Jendral Abdel Fattah al-Sisi (Panglima Militer merangkap Menteri Pertahanan Mesir), membuktikan dirinya sebagai presiden Mesir yang sebenarnya, sekaligus menegaskan bahwa lembaga militer merupakan satu-satunya unsur yang solid dan mampu untuk menjungkalkan hasil pemilihan umum kapan saja ia menghendakinya, dengan judul “memenuhi keinginan rakyat dan menjaga kepentingan nasional”. Ini merupakan kudeta militer, dalam wajah sipil, dengan topeng agama. Inilah yang menginterpretasikan penyertaan Syaikh Al-Azhar dan Paus Kristen Koptik dalam proses pengambilan keputusan pemecatan Presiden Mursi dan gerakan Ikhwanul Muslimin, kudeta militer dalam wajah sipil, maka yang dimaksudkan adalah lembaga militer memilih presiden sipil sebagai pejabat sementara, yaitu ketua Mahkamah Konstitusi, lalu lembaga militer menyerukan pemilihan presiden dan pemilihan legislatif pada waktu enam bulan mendatang, serta membentuk panitia ahli untuk menyusun konstitusi baru.
Hegemoni AS di Mesir
Selama lebih dari 30 tahun, AS terus menyalurkan bantuan militer ke Mesir. Bantuan ini merupakan bantuan AS kedua terbesar setelah ke Israel, termasuk bantuan mesin perang dan jet-jet tempur F-16. Ada pula 500 pejabat militer Mesir yang menempuh pascasarjana militer di Amerika setiap tahun. Bahkan Jenderal al-Sisi, pria yang memimpin militer dan menggulingkan Mursi, adalah alumni US Army War College di Pennsylvaania. Selain bantuan fisik, AS juga terus menguatkan hegemoni ide Nasionalisme dan “Lipstik Demokrasi“, di satu sisi mereka selalu menyerukan demokrasi. Di sisi lain mereka mendukung tindakan militer Mesir yang menggulingkan Presiden Mursi yang telah dipilih secara demokratis. Di satu sisi mereka selalu menyerukan penghormatan terhadap HAM. Di sisi lain mereka cenderung membiarkan bahkan mendukung tindakan brutal militer Mesir yang membantai ribuan rakyat Mesir. Sedangkan paham Nasionalisme dimaknai sebagai paham yang mengharuskan kesetiaan tertinggi satu individu harus diserahkan pada negara kebangsaan (Hans Kohn). Dengan dalih nasionalisme, Barat (AS) menganggap segala upaya untuk menyatukan negeri-negeri Muslim dicap sebagai langkah yang merongrong eksistensi negara kebangsaan.
Hegemoni lainnya yaitu kuatnya pengaruh AS terhadap para anteknya. karena kita bisa melihat dengan terang bahwa pembantaian di Mesir melibatkan pengkhianatan kelompok-kelompok liberal sekular, gereja koptik dan  sebagian ulama al-Azhar yang menjadi ulama bayaran penguasa bengis. Mereka berkerjasama dengan militer untuk membunuh umat Islam.  Mereka ini adalah para komprador penjajah Barat untuk menghancurkan umat Islam. Slogan-slogan perang melawan terorisme dan ekstremisme yang mereka usung tidak lain merupakan legitimasi bagi pembunuhan terhadap umat Islam. Seperti sikap para penguasa Arab yang mendukung rezim pembantai militer Mesir semakin memperjelas  pengkhianatan mereka terhadap umat. Para pelayan penjajah Barat ini pun menggunakan bahasa yang sama dengan tuan besar mereka, menuduh umat Islam teroris, pengobar kebencian dan penghasut. Alih-alih bersimpati dengan ribuan korban pembantaian, Raja Arab Saudi Abdullah bin Abdul Aziz malah mendukung pemerintahan  Mesir dalam perang “melawan terorisme.” Dia juga mengatakan stabilitas Mesir sedang ditargetkan oleh para “pembenci.” Dia memperingatkan bahwa siapa pun yang mencampuri urusan dalam negeri Mesir adalah “penghasut.” Hal yang sama ditunjukkan Pemerintahan Raja  Yordania dan Emir Uni Emirat Arab. Mereka  juga memuji dukungan Raja Abdullah untuk pemerintah Mesir yang dibentuk militer. Penguasa negeri kita (SBY) hanya menyatakan keprihatinannya atas konflik di Mesir dengan berkali-kali mengirim twitter mengutarakan pendapatnya soal Mesir, Ia berkelit untuk terlibat lebih jauh menyelesaikan persoalan di Mesir dengan berdalih “Situasinya sulit dan kompleks, opsinya tidak terlalu banyak untuk menghentikan pertumpahan darah.”(republika. co.id,  15/8)
Masihkah Berharap pada Demokrasi ?
Ketika Menlu AS John Kerry membiarkannya – penggulingan mantan Presiden Muhammad Mursi dianggap sebagai sebuah langkah menuju “pemulihan demokrasi.” Atau dengan kata lain, mengembalikan rezim yang tidak hanya akan setuju untuk melindungi kepentingan-kepentingan Amerika seperti Perjanjian Camp David, tetapi juga akan bekerja keras untuk membatasi ruang bagi aktivisme Islam politik di kalangan masyarakat Mesir, sesuatu yang tentu saja tidak mau dilakukan oleh pemerintah Mursi. Dan, sementara darah mengalir dan mengisi penjara-penjara di Mesir, kita akan sangat sedikit mendengar selain kecaman kosong dan suara bergumam dari “Barat,” yang mirip dengan protes yang kosong terhadap rezim Suriah Bashar al-Assad – sekutu mereka yang lain dalam “perang melawan teror.” Sementara pembunuhan terhadap kaum Muslim dalam jumlah besar dan cara terbuka dan berani baik di Mesir maupun Suriah mungkin terlalu memalukan bagi pemerintah Amerika untuk mempertahankan hubungan terbuka yang ramah sementara kerusuhan terus terjadi, yang kebijakan untuk membunuh kaum “teroris” menjadi tindakan bersama, baik secara diam-diam dan jauh dari kamera oleh serangan pesawat tak berawak di Pakistan dan Yaman maupun secara kasar yang dilakukan dari balik mobil polisi. (khilafah.com, 21/8/2013).
Meraih kekuasaan untuk menerapkan Islam melalui demokrasi adalah cara yang tidak sesuai syariah. Pada saat yang sama, ia tidak praktis. Ia dikatakan tidak sesuai syariah karena bertentangan dengan metode Rasulullah saw. Beliau menolak untuk mengambil kekuasaan yang terikat. Beliau telah menolak kekuasaan ketika ia ditawari di bawah sistem Jahiliah, juga orang yang meraih kekuasaan dengan cara ini. Maka dari itu, sejak awal jika Anda akan disumpah untuk menjaga sistem republik kafir serta untuk  menghormati konstitusi dan undang-undang yang bertentangan dengan Islam, Anda wajib menolaknya. Selain haram hukumnya, faktanya cara ini juga tidak praktis. Ini karena orang kafir tidak akan membiarkan Anda untuk berkuasa dalam sistem demokrasi sehingga akan dikudeta. Kita mendapat pelajaran dari FIS di Aljazair, Hamas di Gaza, dan sekarang Ikhwanul Muslimin di Mesir. Kita mendapat pelajaran yang sangat berharga dari semua ini.
Memperjelas Arah Perubahan Hakiki
Ada pelajaran amat penting dari panggung perubahan di sejumlah negeri Islam. Membiarkan arus perubahan tanpa kawalan umat sama artinya dengan membiarkan para penumpang gelap atau pihak-pihak yang tidak suka pada perubahan yang menuju kejayaan Islam ‘membajak’ arah perubahan. Mereka lalu membelokkan perubahan itu ke arah ideologi dan kepentingan pihak-pihak yang tak bertanggung jawab. Presiden Mursi akhirnya ‘dikudeta’ oleh militer dengan skenario AS melalui agen-agennya. Belum juga Mursi melakukan perubahan sebagaimana yang dijanjikan, dia sudah ‘dikhianati’ oleh demokrasi itu sendiri. Dia ditumbangkan di tengah jalan. Padahal Mursi memenangkan Pemilu dengan suara mayoritas.
Mengetahui arah perubahan yang benar, kita harus memahami persoalan utama kita. Allah SWT mewajibkan kita mengamalkan seluruh hukum Islam dan menerapkannya di dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.  Simaklah firman Allah SWT:
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
Apa saja yang Rasul berikan kepada kalian, terimalah.  Apa yang dia larang atas kalian, tinggalkanlah (QS al-Hasyr [59]:7).
وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ
Hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka berdasarkan apa yang telah Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka (QS  al-Maidah [5]:49-50).
Kata ‘mâ’  dalam kedua ayat tersebut dan ayat senada lainnya berbentuk umum.  Artinya, kewajiban melaksanakan hukum syariah Islam itu berlaku untuk semua bidang.  Namun, realitas yang ada menunjukkan bahwa hukum syariah Islam tidaklah diterapkan secara kaffah. Masyarakat di negeri-negeri Islam tetap dikuasai oleh pemikiran, perasaan dan peraturan yang tidak islami serta memunculkan banyak sekali kontradiksi. Pada saat mereka meyakini bahwa Mukmin itu bersaudara, mereka justru berpegang teguh pada nasionalisme, fanatisme mazhab dan golongan yang mengakibatkan perpecahan umat.  Ketika mereka melihat bahwa negara-negara kafir penjajah adalah musuh, justru mereka menjadikan negara-negara tersebut sebagai sahabat dan tempat meminta pertolongan serta mencari solusi atas berbagai persoalan di negeri-negeri Muslim.  Mereka mengikrarkan beriman dengan Islam, tetapi justru mereka menyerukan paham-paham seperti demokrasi, kapitalisme atau sosialisme yang tidak bersumber dari Islam.  Mereka meyakini bahwa Nabi Muhammad saw. adalah nabi dan rasul terakhir, tetapi mereka diam saja ketika Rasulullah Muhammad saw. dihina dan dilecehkan.
Kaum Muslim di berbagai belahan dunia hidup dalam masyarakat yang tidak islami. Negeri-negeri Muslim tidak menerapkan syariah Islam. Keamanannya pun bukan di tangan umat Islam. Berdasarkan hal ini, mengembalikan hukum syariah Islam untuk diterapkan dalam kehidupan pribadi, masyarakat dan negara merupakan persoalan utama kaum Muslim saat ini.
Singkatnya, persoalan utama (qadhiyah mashîriyah) kaum Muslim di dunia saat ini adalah mengembalikan hukum Allah SWT melalui jalan menegakkan Khilafah dan mengangkat khalifah atas dasar al-Quran dan as-Sunnah. Untuk apa? Untuk meruntuhkan sistem kufur dan menggantinya dengan hukum Islam; mengubah negeri-negeri Islam menjadi Dâr al-Islam, yakni negeri yang menerapkan syariah Islam dan keamanannya berada di tangan kaum Muslim; menngubah masyarakat di negeri-negeri Muslim menjadi masyarakat islami; serta mengemban Islam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad. Oleh sebab itu, arah perubahan yang kita tuju adalah melanjutkan kehidupan Islam (isti’nâfu hayâh al-islâmiyyah).  Melanjutkan kehidupan Islam maknanya adalah mengembalikan kaum Muslim untuk mengamalkan seluruh ajaran Islam: akidah, ibadah, akhlak, muamalah islami; sistem pemerintahan, ekonomi, sosial, pendidikan dan politik luar negeri islami. Melanjutkan kehidupan Islam juga berarti mengubah negeri-negeri Islam menjadi Dâr al-Islâm serta mengubah masyarakat di negeri-negeri Muslim menjadi masyarakat islami.  Misi ini tidak akan dapat terlaksana kecuali dengan tegaknya Khilafah dan mengangkat seorang khalifah bagi seluruh kaum Muslim yang dibaiat atas dasar ketaatan pada al-Quran dan as-Sunnah.
Perubahan yang kita tuju harus mencakup empat perubahan besar dan mendasar.  Pertama: perubahan prinsip kedaulatan di tangan rakyat menjadi kedaulatan di tangan syariah (as-siyâdah li asy-syar’i).  Artinya, yang berhak menetapkan hukum benar-salah, halal dan haram, terpuji-tercela, dan dosa-pahala adalah syariah  Tegasnya, ubah seluruh sistem hukum Jahiliah menjadi hukum syariah karena yang berhak membuat hukum hanyalah Allah SWT (Lihat: QS Yusuf [12]:40).
Kedua: perubahan kekuasaan di tangan pemilik modal menjadi kekuasaan di tangan umat (as-sulthân li al-ummah).  Artinya, pemimpin hanyalah orang yang dipilih oleh umat untuk menerapkan syariah.
Ketiga: menyatukan kaum Muslim dengan mengangkat hanya satu orang khalifah untuk seluruh dunia.  Dengan demikian umat Islam benar-benar menjadi umat yang satu (ummah wâhidah).
Keempat: menjadikan hak adopsi (tabanni) hukum berada di tangan Khalifah. Dalam perkara-perkara individual, hukum diserahkan pada hasil ijtihad para mujtahid.  Perbedaan pendapat dijamin. Adapun dalam masalah sistem (sosial, politik, ekonomi) Khalifah mengambil salah satu pendapat terkuat di antara pendapat para mujtahid  yang telah digali dari sumber-sumber hukum Islam.  Hukum Islam yang diadopsi oleh Khalifah inilah yang berlaku di tengah masyarakat.
Inilah empat arah perubahan hakiki yang kita tuju, yang juga adalah empat pilar Khilafah.  Oleh karena itu, arah perubahan yang kita inginkan sejatinya adalah penegakkan kembali Khilafah.
Ingatlah, tegaknya kembali Khilafah merupakan janji Allah yang akan menjadi kenyataan.  Rasulullah saw. bersabda:
يَكُوْنُ فِيْ آَخِرِ أُمَّتِيْ خَلِيْفَةٌ يَحْثُوا الْمَالَ حَثْيًا لاَ يَعُدُّهُ عَدَدًا [رواه مسلم]
Pada akhir umatku akan ada khalifah yang menebarkan harta melimpah, yang tidak terhitung jumlahnya (HR Muslim).
Sungguh apa yang terjadi akhir-akhir ini di Mesir merupakan bukti kebenaran metode (thariqah) yang ditempuh Hizbut Tahrir untuk mendirikan Khilafah. Metode ini mencakup: penciptaan opini umum yang didasarkan pada kesadaran umum terhadap pemikiran Islam, hukum-hukumnya dan negara Khilafah serta serta mengambil nushrah dari ahlul quwah (pemilik kekuatan), yang saat ini tercermin pada militer. Secara riil kekuatan itulah yang menjadi batu sandungan besar di jalan menuju tegaknya Khilafah. Sebab, kekuatan ini masih ada di tangan orang-orang kafir. Mereka melarang kekuatan itu berpihak pada Islam dan negaranya, yaitu negara Khilafah. Hizbut Tahrir dan setiap partai yang ingin membuat perubahan hakiki di Mesir, harus mengikuti langkah Rasulullah saw. dalam upayanya untuk mendirikan Negara Islam di Madinah dengan menolak untuk mengambil kekuasaan yang terikat, atau berpartisipasi dalam sistem rusak yang bertentangan dengan Islam. Hal ini dilakukan melalui pergolakan pemikiran; menawarkan pemikiran-pemikiran Islam dengan kuat sekaligus menyerang pemikiran-pemikiran kufur. Ini seperti yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw. Tidak dengan cara melebur dan berjalan bersama pemikiran-pemikrian kufur itu. Kita pun mesti terus melakukan perjuangan politik serta membongkar rencana dan konspirasi untuk melawan Islam dan kaum Muslim. Ini pun seperti yang dilakukan Rasulullah saw. Tidak dengan menjilat atau mengambil muka serta berjalan dengan para thaghut dan para antek kaum kafir Barat di negeri-negeri kita dari kalangan para politisi, wartawan serta para penyeru pemikiran kufur lainnya. Dengan cara ini akan tercipta opini umum tentang Khilafah dan syariah.  Kemudian para ahlun-nushrah yang mukhlis dalam militer akan berpihak pada perjuangan penegakkan Khilafah dan syariah. Merekalah yang memiliki kekuatan riil, Pengkhianatan para penguasa Arab ini akan mempercepat kejatuhan mereka. Inilah yang dikabarkan oleh Rasulullah saw. tentang keberadan para penguasa diktator (mulkan jabriyah). Kekuasaan mereka ini akan dicabut oleh Allah SWT. Allah SWT pasti menghinakan mereka dan mengganti mereka dengan para khalifah yang akan menerapkan Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwah. Wallaahu a’lam bi ash-shawwab.
Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jasa SEO Terbaik Dengan Harga Murah